Penduduk Lampung terdiri dari hampir semua suku yang ada di
Indonesia. Gambaran ini ditunjukkan oleh semboyan yang tertera pada lambang
daerah yaitu “Sang Bumi Ruwai Jurai”, dan Propinsi Lampung sendiri dijuluki
Propinsi “Sang Bumi Ruwai Jurai”. “Sang Bumi” berarti rumah tangga agung yang
luas serta berbilik-bilik, sedangkan “Ruwa Jurai” berarti dua golongan
masyarakat yang berdiam di wilayah Propinsi Lampung, yaitu golongan keturunan
Lampung asli dan golongan keturunan pendatang.
Penduduk Lampung asli terdiri dari masyarakat Lampung
beradat Pepadun dan masyarakat Lampung beradat Saibatin (Peminggir) . Sedangkan
pendatang adalah mereka yang umumnya berasal dari Jawa dan Bali yang
bertransmigrasi sejak jaman Belanda. Namun kini pendatang itu tidak hanya dari
Jawa dan Bali saja, tetapi hampir segala suku yang ada di Indonesia ada di
propinsi ini .
Arsitektur tradisional Lampung umumnya terdiri dari bangunan
tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou, bangunan ibadah yang
disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok Ngajei, bangunan
musyawarah yang disebut sesat atau bantaian, dan bangunan penyimpanan bahan
makanan dan benda pusaka yang disebut Lamban Pamanohan.
Rumah orang Lampung biasanya didirikan dekat sungai dan
berjajar sepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang disebut tiyuh.
Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang disebut bilik, yaitu
tempat berdiam buway . Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan
teritorial-genealogis yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah
rumah klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu dihuni oleh
kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin keluarga.
Arsitektur lainnya adalah “lamban pesagi” yang merupakan
rumah tradisional berbentuk panggung yang sebagian besar terdiri dari bahan
kayu dan atap ijuk. Rumah ini berasal dari desa Kenali Kecamatan Belalau,
Kabupaten Lampung Barat.. Ada dua jenis rumah adat Nuwou Balak aslinya
merupakan rumah tinggal bagi para Kepala Adat (penyimbang adat), yang dalam
bahasa Lampung juga disebut Balai Keratun. Bangunan ini terdiri dari beberapa
ruangan, yaitu Lawang Kuri (gapura), Pusiban (tempat tamu melapor) dan Ijan
Geladak (tangga “naik” ke rumah); Anjung-anjung (serambi depan tempat menerima
tamu), Serambi Tengah (tempat duduk anggota kerabat pria), Lapang Agung (tempat
kerabat wanita berkumpul), Kebik Temen atau kebik kerumpu (kamar tidur bagi
anak penyimbang bumi atau anak tertua), kebik rangek (kamar tidur bagi anak
penyimbang ratu atau anak kedua), kebik tengah (yaitu kamar tidur untuk anak
penyimbang batin atau anak ketiga).
Bangunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya
adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin (penyimbang) pada saat
mengadakan pepung adat (musyawarah). Karena itu balai ini juga disebut Sesat
Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk
yang dilengkapi dengan atap). Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan
(serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang dalam tempat musyawarah
resmi), ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat musik tradisional), dan ruang
Gajah Merem ( tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang khas di
rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya (rurung agung),
yang berwarna putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat
kepenyimbangan bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun.
Arsitek tradisinoal Lampung lainnya dapat ditemukan di
daerah Negeri Olokgading, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung. Negeri Olokgading
ini termasuk Lampung Pesisir Saibatin .Begitu memasuki Olokgading kita akan
menjumpai jajaran rumah panggung khas Lampung Pesisir, dan di sanalah kita akan
melihat Lamban Dalom Kebandaran Marga Olokgading, yang menjadi pusat adat
istiadat Marga Balak Olokgading. Bangunan ini berbahan kayu dan di depan rumah
berdiri plang nama bertuliskan “Lamban Dalom Kebandaran Marga Balak Lampung
Pesisir”. Bentuknya sangat unik dan khas dengan siger besar berdiri megah di
atas bangunan bagian muka sampai sekarang lamban dalom ini ditempati kepala
adat Marga Balak secara turun temurun.
Meskipun berada di perkotaan, fungsi rumah panggung tidak
begitu saja hilang. Lamban Dalom Kebandaran Marga Balak berfungsi sebagai
tempat rapat, musyawarah, begawi, dan acara-acara adat lain. Di Lamban Dalom
ini ada siger yang berusia ratusan tahun, konon sudah ada sebelum Gunung
Krakatau meletus. Siger yang terbuat dari bahan perak ini adalah milik kepala
adat dan diwariskan secara turun temurun. Siger ini hanyalah salah satu artefak
atau peninggalan budaya yang sudah ratusan tahun usianya disimpan oleh Marga
Balak. Selain siger ada juga keris, pedang, tombak samurai, kain sarat( kain
khas Lampung Pesisir seperti tapis), terbangan( alat musik pukul seperti
rebana), dan tala(sejenis alat musik khas Lampung sejenis kulintang) dan salah
satunya dinamakan Talo Balak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar